Contoh Makalah Upacara Adat Sekaten

Hallo Sahabat Trikuswa dimanapun berada, semoga dalam keadaan tidak kurang apapun juga, Oh ya, untuk anda yang sedang membutuhkan informasi tentang pembuatan makalah. Tentunya sangat tepat untuk membaca artikel ini, dimana kami akan menyajikan tentang contoh Makalah Upacara Adat Sekaten, selamat membaca.


Contoh Makalah Upacara Adat Sekaten


Contoh Makalah Upacara Adat Sekaten



KATA  PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun membuat makalah ini untuk memenuhi KBM dalam ujian akhir semester genap.

Dan terima kasih kepada bapak/ ibu guru dan teman -  teman telah membantu dalam membuat makalah ini. Tanpa ada kalian kami tidak bisa menyelesaikan pembuatan makalah ini.

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam membuat makalah ini karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Dan sangat kami harapkan kritik dan saran agar bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah ini.


                                                                                                                   Banjar,  Januari 2018

                                                                                                               Penyusun


DAFTAR ISI


Lembar Pengesahan ........................................................................... i
Kata Pengantar ....................................................................................... ii
Daftar isi ................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan ................................................................................. 1
        A. Latar belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................ 1
C. Tujuan ............................................................................ 1
Bab II Pembahasan ............................................................................... 2
        A. Asal Usul Sekaten ................................................................ 2
        B. Tujuan ............................................................................ 3
        C. Prosesi Upacara ................................................................ 4
               1. Perlengkapan Sekaten .................................................... 4
               2. Waktu dan Tempat Perayaan ........................................ 6
               3. Rangkaian Upacara .................................................... 7
        D. Nilai – Nilai Yang Terkandung ........................................ 10
Bab III Penutup ............................................................................ 11
        A. Kesimpulan ............................................................................ 11
        B. Saran ............................................................................ 11


BAB I PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memiliki pemeluk dari berbagai suku bangsa yang hidup di berbagai pulau. Sebelum agama islam masuk ke Indonesia, berbagai suku  telah memiliki kebudayaan dan adat istiadat masing-masing dimana budaya tersebut sudah lebih dulu mengakar di lingkungan masyarakat. Di tanah jawa khususnya budaya animisme dan dinamisme sudah menjadi kepercayaan yang lebih dulu membudaya dibandingkan agama islam itu sendiri. Oleh karena itu agama islam tidak akan mudah menyebar ditanah jawa apabila budaya dan adat istiadat yang lebih dulu ada dihilangkan begitu saja.

Karena faktor itulah para penyebar islam masa lalu di tanah jawa menggunakan pendekatan kebudayaan untuk menyebarkan agama islam di tanah jawa. Melalui ritual kebudayaan serta kesenian, para penyebar islam mengumpulkan massa untuk menyebarkan agama islam. Para Wali sebagai penyebar islam juga tidak menghilangkan upacara ritual kebudayaan seperti selamatan dan sebagainya. Salah satu upacara ritual yang masih ada hingga sekarang adalah upacara sekaten yang merupakan perwujudan dari selamatan tahunan yang diadakan oleh raja-raja hindu budha masa lalu.

Saat ini perayaan Sekaten dijadikan suatu upacara tradisional keagamaan Islam dan dianggap sebagai tradisi untuk memperingati sosialisasi masuknya Islam ke Indonesia. Tradisi Sekaten mengandung tiga dimensi penting yaitu kultural, religius, dan historis (Soelarto, 1996: 24). Sebagai suatu peristiwa keagamaan dan kebudayaan, Sekaten (Garebeg) merupakan  upacara Kerajaan yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Soelarto, 1996 : 41).

B. Rumusan Masalah 

Adapun rumusan dalam penulisan  makalah ini adalah :
1. Menjelaskan Tradisi Sekaten
2. Menjelaskan Tradisi Grebeg Maulud

C. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, meliputi beberapa hal diantaranya :
1.    Memahami salah satu tugas mata pelajaran SKI
2.    Mengetahui Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud
3.    Semoga bermanfaat bagi para pembaca sebagai tambahan pengetahuan
4.    Belajar mentafakuri perjuangan ulama terdahulu dalam mengembangkan agama islam yang baik



BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISIS


A. Asal Usul Sekaten

Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain yaitu kalimat syahadat yang merupakan suatu kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: Tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sekaten selain berasal dari kata syahadatain juga berasal dari kata Sahutain (menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat pelacuran dan penyelewengan ), Sakhatain (menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan), Sakhotain (menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan), Sekati (setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk), Sekat (batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan) (K.R.T. Haji Handipaningrat : 3).

Kerajaan Demak pada pemerintahan Raden Patah (Sultan Ngabdul Surya Ngalam I) diadakan perubahan drastis tanpa disosialisasikan dengan para Wali terlebih dahulu, yaitu Selamatan Negara Tahunan ditiadakan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam. Hal tersebut menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang tidak bisa menerima kehendak Sultan. Bersamaan dengan ditiadakannya upacara tersebut diseluruh wilayah Kerajaan Demak timbul wabah penyakit yang banyak menyebabkan kematian  warga masyarakat. Atas nasihat Wali Sanga untuk membangkitkan lagi kepercayaan masyarakat, maka Sultan Demak berkenan mengadakan kembali Upacara Selamatan Negara Tahunan yang dikemas dan diselaraskan dengan ajaran Islam  dibawah binaan Sunan Giri dan Sunan Bonang (Wignyasubrata : 2). Tidak lama  kemudian, wabah penyakit tersebut menghilang dan rakyat hidup tenteram. Sejak saat itulah Perayaan Sekaten diselenggarakan sebagai perwujudan pengganti serta pelestarian Selamatan Negara Tahunan yang selalu diselenggarakan Raja Hindu-Budha secara turun temurun.

Nama Sekaten itu sendiri diperkenalkan oleh Raden Patah di Demak abad 16. Saat itu orang Jawa beralih memeluk agama Islam dengan mengucapkan syahadatain. Oleh karena itu, penggunaan nama Sekaten pada perayaan tersebut menjadi terkenal. Perayaan Sekaten kemudian diteruskan oleh sultan-sultan berikutnya sehingga menjadi perayaan tahunan yang diperingati oleh banyak masyarakat. Sekaten menjadi hasil dari interaksi antara budaya Hindu-Budha dan Islam yang berbentuk kebudayaan. Proses interaksi tersebut dapat membantu mempercepat  penyebaran agama islam di Pulau Jawa. Di Yogyakarta sendiri sekaten yang menjadi salah satu bentuk adat Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk pertama kalinya diadakan oleh Sultan I Kasultanan Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono I. Itulah sebabnya, sejarah Sekaten di Kasultanan Yogyakarta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu sendiri (Soelarto, 1996 : 17).

Garebeg Maulud (Sekaten) pada masa Hamengkubuwono I merupakan upacara Kerajaan yang melibatkan seluruh pegawai Keraton, seluruh aparat Kerajaan, dan seluruh lapisan masyarakat. Sekaten yang bersifat keagamaan dikaitkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hal itu juga menjabarkan gelar Sultan yang bersifat kemusliman. Sekaten yang menurut sejarahnya merupakan upacara tradisional keagamaan Islam dalam membentuk akhlak dan budi pekerti luhur, tetap dilestarikan oleh para pengganti  Sri Sultan Hamengkubuwono I (Soelarto, 1996 : 19). Terbentuknya tradisi Sekaten merupakan perwujudan dari masuknya dan tersosialisasinya Islam ke Indonesia secara damai, karena Islam itu sendiri tidak mengenal kekerasan. Itulah sebabnya agama Islam mendapat banyak simpati dari masyarakat di pulau Jawa.  Dalam perkembangannya tradisi Sekaten tidak lagi menjadi milik keraton atau kasunanan, tetapi masyarakat juga merasa ikut. Bagi sebagian besar masyarakat di Provinsi DIY, baik masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan tradisi Sekaten selain dinilai sebagai upacara religius keislaman yang bercorak khas kejawen dengan segala hikmah dan berkah, juga merupakan kebanggaan daerah yang selalu mengingatkan kepada sejarah zaman keemasan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan  Senopati (Soelarto, 1996: 24). Dalam hal ini masyarakat Yogyakarta yang setiap tahun tepatnya bulan Maulud  selalu mengadakan tradisi Sekatenan menganggap upacara Sekaten sangat perlu untuk dilaksanakan. Selain melaksanakan tradisi leluhur yang telah dilaksanakan selama berabad-abad lamanya, masyarakat juga yakin Sekaten bermanfaat dan mempunyai peran penting dalam proses pembentukan akhlak dan budi pekerti luhur masyarakat.

Tradisi Sekaten mengandung tiga dimensi penting yaitu kultural, religius, dan historis. Makna religius, berkaitan dengan kewajiban Sultan untuk mensyiarkan ajaran agama Islam dalam Kerajaannya, sesuai dengan kedudukan dan peranan Sultan sebagai yang tercantum dalam rangkaian gelarnya.  Makna historis, berkaitan dengan keabsahan  Sultan dan Kerajaannya sebagai ahli waris yang sah dari Panembahan Senopati serta Kerajaan Mataram Islam.  Makna Kultural, berkaitan dengan Sultan sebagai pemimpin suku bangsa Jawa warisan para leluhur yang sangat kuat diwarnai oleh kepercayaan  lama (Soelarto, 1996 : 24).  Keterangan diatas merupakan sejarah dari perayaan Sekaten yang secara terus-menerus menunjukkan toleransi dalam sikap religius dan sikap kultural bangsa Jawa yang merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dari ratusan suku bangsa se-nusantara  yang membentuk kepribadian bangsa Indonesia pada masa kini (Soelarto, 1996 : 24).

B. Tujuan 

Upacara Sekaten adalah sebuah upacara ritual di Kraton Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tahun. Upacara ini dilaksanakan selama tujuh hari, yaitu sejak tanggal 5 Mulud (Rabiulawal) sore hari sampai dengan tanggal 11 Mulud (Rabiulawal) tengah malam. Upacara Sekaten diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran (Mulud) Nabi Muhammad SAW. Tujuan lain dari penyelenggaraan upacara ini adalah untuk sarana penyebaran agama Islam.


C. Prosesi Upacara 

1. Perlengkapan Sekaten
Dalam upacara Sekaten terdapat gunungan yang merupakan simbol atau lambang yang bermakna positif. Berbagai jenis makanan yang disiapkan dalam gunungan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan harapan yang baik bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap makanan atau sesaji yang terdapat dalam gunungan, canthangbalung, sirih, dan lain sebagainya yang terdapat pada Upacara Tradisi Sekaten tersebut sebagai berikut:

  • Gunungan kakung, Gunungan selain bermakna kesuburan juga mempunyai arti sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk. Dua sifat ini bila berdiri sendiri akan menimbulkan sifat perusak, sehingga dua sifat ini harus disatukan. Disinilah peran raja untuk menyatukan dua kekuatan itu sehingga akan menjadi satu kekuatan yang besar untuk kejayaan keraton. Dari hal tersebut raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten. Gunungan kakung juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur didalamnya, seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan manusia itu sendiri dengan berbagai jenis dan sifat-sifatnya.. 
  • Bendera merah putih, ditempatkan pada ujung gunungan, berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan. Warna merah bermakna semangat atau kebenaran, sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih menunjukkan istilah pada kerajaan Majapahit yaitu istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian.
  • Cakra, merupakan puncak dari pangkal berdirinya gunungan yang mempunyai makna senjata atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keadilan. Selain itu cakra merupakan simbol dari hati yang merupakan petunjuk dan pemimpin dalam kehidupan. Perjalanan cakra adalah berputar yang bermakna bahwa roda kehidupan manusia itu selalu berputar, manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah.
  • Wapen, merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Adapun wapen dalam gunungan bermakna petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja yang bertahta.
  • Kampuh, merupakan kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang (tempat makanan) yang bermakna kesusilaan. kampuh dibuat sebagus mungkin yang membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya.
  • Entho-entho, merupakan makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia.
  • kuning melambangkan laki-laki, dan bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru.
  • Bahan perlengkapan dalam gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, mentimun, kacang panjang dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia. Dan juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene. Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi.
  • Gunungan putri, Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin, sehingga dia mempunyai penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya. Adapun isi dari gunungan putri merupakan makna dan lambang dari kewajiban wanita untuk menjaga dan mengerjakan urusan belakang atau kebutuhan rumah tangga. Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan, yang merupakan simbol bahwa istri bertugas sebagai pengasuh utama dari anak dan bertanggungjawab menjaga keselamatan rumah tangga.
  • Eter, terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus. Eter juga berwujud jantung yang merupakan pusat kebatinan atau rohani, hal ini ada pertimbangan kewajiban lahir batin atau dengan Allah dan sesama manusia.
  • Bunga sebagai pengharum, mempunyai dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok. Sedangkan makna batiniah yaitu kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik.
  • Jajanan, yang terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga.
  • Uang logam, bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol cobaan atau ujian hidup manusia yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan.
  • Gunungan anakan, bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang berbakti dan mau mendoakan orang tuanya.
  • Ancak cantaka, merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan.
  • Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja. Maknanya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedang yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali.
  • Sega janganan atau nasi sayuran, melambangkan kehidupan tercukupi (duniawi), sedang yang dituju adalah para roh.
  • Sega asahan, bermakna untuk menyucikan lahir dan batin.
  • Buah-buahan atau jajan pasar, bermakna sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi.
  • Sirih, menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten.
  • Canthangbalung, Canthangbalung adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira. Disebut Canthangbalung karena mereka membawa kepyak dari tulang yang diselipkan pada jari-jari dan selalu dibunyikan dengan irama “crek, crek, crek”. Canthangbalung dengan gayanya yang lucu dimaksudkan untuk orang yang mengikuti konsep dualis yang berlaku menguji kesungguhan dan keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah. 
  • Pecut, adalah salah satu barang yang dijual dalam sekaten. Oleh masyarakat, pecut yang dibeli saat sekaten dipercaya dapat menghindarkan ternak dari penyakit dan berkembang biak bagi para peternak sapi/kambing. 


Benda-benda perlengkapan sekaten tersebut dianggap sebagai perantara untuk mendapatkan berkah kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik serta menuju kemakmuran.

2. Waktu dan Tempat Perayaan
Rangkaian perayaan secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa (dapat disetarakan dengan Rabiul Awal penanggalan Hijriah). Beberapa acara penting perayaan ini adalah dimainkannya gamelan pusaka di halaman Masjid Agung masing-masing keraton, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan rangkaian pengajian di serambi Masjid Agung dan, puncaknya, Garebeg Mulud sebagai bentuk syukur pihak istana dengan keluarnya sejumlah gunungan untuk diperebutkan oleh masyarakat.
Perayaan ini dimeriahkan pula oleh pasar malam (biasa disebut "Sekatenan") yang berlangsung selama sekitar 40 hari, dimulai pada awal bulan Sapar (Safar).

3. Rangkaian Upacara
Urutan atau tata cara ritual dalam penyelenggaraan upacara Sekaten terdiri dari 5 tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap gamelan sekaten mulai dibunyikan, tahap gamelan sekaten dipindahkan ke halaman masjid besar, tahap Sri Sultan hadir di Masjid Besar, dan tahap kondur gongsa. Seluruh tahapan ini berlangsung selama tujuh hari.

1. Tahap Persiapan
Tahap pertama adalah tahap persiapan. Ada 2 jenis persiapan, yaitu persiapan fisik dan persiapan non fisik. Persiapan fisik berwujud benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upacara, sedangkan persiapan non fisik berwujud sikap dan perbuatan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan upacara.
Untuk persiapan non fisik, para abdi dalem yang akan terlibat dalam upacara harus mempersiapkan diri, terutama mental mereka untuk mengemban tugas yang dianggap sakral tersebut. Para abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan sekaten harus menyucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas (mandi keramas). Gamelan pusaka adalah benda pusaka kraton, sehingga dalam memperlakukannya harus dengan penghormatan yang khusus.
Untuk persiapan yang berwujud fisik, benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang perlu diperlukan dalam penyelenggaraan upacara adalah sebagai berikut.

  1. Gamelan Sekaten, yaitu gamelan pusaka bernama Kanjeng Kyai Sekati.
  2. Perbendaharaan lagu-lagu atau gending-gending khusus yang tidak pernah dibunyikan pada acara lain. Konon, lagu-lagu tersebut merupakan ciptaan Walisanga pada jaman Kerajaan Demak. Lagu-lagu tersebut adalah Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet nem, Muru putih, Orang-orang pathet nem, Ngajatun pathet nem, Bayem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, Srundheng Gosong pelog pathet barang.
  3. Sejumlah kepingan uang logam untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik. 
  4. Naskah riwayat Mulud Nabi Muhammad SAW yang akan dibacakan oleh Kyai Pengulu pada tanggal 11 Rabiulawal malam.
  5. Sejumlah bunga kanthil (cempaka) yang akan disematkan pada daun telinga kanan Sri Sultan dan para pengiringnya pada saat menghadiri pembacaan riwayat Mulud Nabi Muhammad SAW.
  6. Busana seragam yang masih baru dan sejumlah samir khusus untuk dipakai oleh para niaga yang bertugas menabuh gamelan.


2. Tahap Gamelan Sekaten Mulai Dibunyikan
Tahap kedua adalah tahap gamelan sekaten mulai dibunyikan. Gamelan sekaten akan dibunyikan di dalam kraton, tepatnya di Bangsal Ponconiti yang berada di halaman Kemandhungan atau Keben, yaitu di tratag bagian timur dan tratag bagian barat. Pada pukul 16.00 WIB gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari tempat persemayamannya. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditata di tratag bagian timur, sedangkan Kanjeng Kyai Nagawilaga ditata di tratag bagian barat.
Selepas waktu shalat Isya dan setelah semua persiapan selesai, para abdi dalem yang bertugas di Bangsal Ponconiti memberi laporan pada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah dari Sri Sultan melalui abdi dalem yang diutus, gamelan sekaten mulai dibunyikan. Gamelan sekaten dibunyikan mulai dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Penabuhan gamelan dilakukan berselang-seling dari kanjeng Kyai Guntur Madu disusul Kanjeng Kyai Nagawilaga dengan urutan gending yang sudah ditentukan.
Pada pukul 20.00 WIB, Sri Sultan atau utusannya diiringi para pangeran, kerabat, dan para bupati datang ke tempat gamelan dibunyikan untuk menyebarkan udhik-udhik. Menurut kepercayaan masyarakat, kepingan uang logam udhik-udhik dapat membawa keberuntungan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Awalnya udhik-udhik disebarkan di Bangsal Ponconiti tratag timur, ke arah para penabuh gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu, kemudian ke Bangsal Ponconiti tratag barat, ke arah para penabuh gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga, selanjutnya disebarkan ke arah pengunjung.
Pada saat Sri Sultan atau utusannya menyebar udhik-udhik, para pemukul gamelan tidak berani mengambil, melainkan terus melanjutkan tugasnya untuk memukul gamelan. Setelah gending yang dibunyikannya berakhir, barulah mereka berani memunguti udhik-udhik yang jatuh di dekatnya. Saat Sri Sultan atau yang mewakili datang mendekat, bunyi gamelan yang didekati dibuat lembut dengan dipukul tidak teerlalu keras, sampai sultan mendekati tempat tersebut. Dimulainya penabuhan gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati merupakan pertanda dimulainya upacara sekaten.

3. Tahap Gamelan Sekaten Dipindahkan ke Halaman Masjid Besar
Tahap selanjutnya adalah tahap gamelan sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Besar. Pada pukul 23.00 WIB, bunyi gamelan sudah berhenti. Bersamaan dengan itu, datanglah para prajurit yang akan bertugas mengawal iring-iringan gamelan dari kraton menuju halaman Masjid Besar, serta para abdi dalem KHP Wahono Sarta Kriya yang akan bertugas mengusung gamelan.
Pada pukul 24.00 WIB, gamelan Kanjeng Kyai Sekati dipindahkan dari kraton ke halaman Masjid Besar. Pemindahan gamelan dikawal oleh dua pasukan prajurit kraton, yaitu Prajurit Mantrijero dan Prajurit Ketanggung. Urut-urutan iring-iringan diawali petugas pengawal kepolisian, diikuti para panji abdi dalem prajurit, disambung abdi dalem sipat bupati keprajan utusan pemerintah Kota Yogyakarta, disambung abdi dalem prajurit ngurung-urung (melindungi di samping kiri dan kanan) jalannya iring-iringan gamelan, diikuti oleh orang-orang yang semula berkerumun di halaman Kemandhungan.
Di Masjid Besar, gamelan sekaten dibunyikan selama 7 hari 7 malam, kecuali pada hari Kamis malam atau Malam Jumat hingga sehabis shalat Jumat. Setiap hari gamelan sekaten dibunyikan sebanyak tiga kali, yaitu pagi (pukul 08.00 – 11.00 WIB), siang (pukul 14.00 – 17.00 WIB), dan malam (pukul 20.00 – 23.00 WIB). Cara membunyikannya adalah bergantian dari Kanjeng Kyai Guntur Madu kemudian Kanjeng Kyai Nagawilaga, dengan gending yang sama.

4. Tahap Sri Sultan Hadir di Masjid Besar
Pada malam ketujuh, tanggal 11 Rabiulawal malam di Masjid Besar diselenggarakan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dan penyebaran udhik-udhik oleh sultan. Kehadiran sultan dari kraton menuju Masjid Besar dengan mengendarai kendaraan, diiringi oleh para pangeran dan kerabat. Di pintu gerbang Masjid Besar, sultan disambut Sri Paduka Paku Alam, Kanjeng Raden Pengulu, walikota Yogyakarta, dan para Abdi Dalem Sipat Bupati beserta para tamu undangan. Sesampainya di halaman Masjid Besar, sultan menuju ke Pagongan selatan untuk menyebarkan udhik-udhik ke arah penabuh gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu, kemudian menuju ke Pagongan utara untuk menyebarkan udhik-udhik ke arah penabuh gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga. Selanjutnya sultan melanjutkan perjalanan menuju masjid.
Sesampainya di depan Mihrab, Sri Sultan dan Kyai Pengulu berdiri di depan pengimamam menghadap ke arah timur. Seorang abdi dalem punokawan kaji menyerahkan pada sultan sebuah bokor berisi udhik-udhik untuk disebar di antara saka guru Masjid Besar serta ke arah kerabat, para abdi dalem, beserta para hadirin. Setelah itu, sultan keluar dari masjid lalu duduk di serambi masjid dengan beralaskan kain putih.
Setelah semuanya siap, sultan mengucapkan salam, lalu memberi isyarat pada Kanjeng Raden Pengulu untuk memulai membacakan riwayat Nabi Muhammad SAW. Pada saat pembacaan Mulud Nabi Muhammad SAW sampai pada asrokal (peristiwa kelahiran nabi), Sri Sultan beserta para pengiringnya menerima persembahan bunga cempaka dari Kyai Pengulu. Pembacaan riwayat Mulud Nabi Muhammad SAW selesai kira-kira pukul 24.00 WIB. Bacaan diakhiri dengan doa oleh Kanjeng Raden Pengulu. Setelah doa, sultan mengucapkan salam lalu kembali ke kraton.

5. Tahap Kondur Gongso
Pada tanggal 11 Rabiulawal, kira-kira pukul 24.00 WIB, setelah sultan meninggalkan Masjid Besar, gamelan sekaten diboyong kembali ke kraton, yang disebut kondur gongso. Sesampainya di kraton, gamelan langsung disemayamkan di tempatnya semula. Dengan dipindahkannya gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati kembali ke kraton, menandakan bahwa upacara sekaten telah selesai.

D. Nilai – Nilai Yang Terkandung 

1.      Nilai Religi
Didalam salah satu ritual sekaten ada sesi pembacaan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. sebagai salah satu utusan Allah yang diperintahkan sebagai rahmatan lil ‘alamin yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia, sehingga upacara tradisional ini sangat berperan dalam membentuk akhlak dan budi pekerti luhur. Tradisi ini pun dimulai sebagai upacara religius keislaman yang bercorak kejawen dengan segala hikmah dan berkah.

2. Nilai sosial
Garebeg Mulud yang merupakan puncaknya sebagai bentuk syukur pihak istana dengan keluarnya sejumlah gunungan untuk diperebutkan oleh masyarakat. Dan dengan hal tersebut diatas sehingga dapat mempererat tali silaturahmi dengan antar sesama.

3.      Nilai Budaya
Nilai sekaten sangat relevan dengan kebudayaan, karena sekaten merupakan percampuran antara kebudayaan Jawa, Hindu-Budha, dan Islam. Dimana kebudayaan Jawa sangat gemar sekali menyelipkan makna tersirat dalam bentuk simbol atau lambang pada setiap kejadian penting, dan kebudayaan Hindu-Budha yang peribadatannya sangat erat dengan ritual-ritual. Hal inilah yang menjadi inspirasi para Wali Sanga dalam mengemas ajaran Islam dalam budaya Jawa, Hindu dan Budha yang terangkai dalam upacara adat sekaten. Di dalam sekaten ada yang disebut gunungan yang mempunyai arti lambang kemakmuran, digunakan sirih yang mengeluarkan warna merah yang berarti diharapkan bisa menyadarkan manusia akan dirinya, nginang memiliki makna dapat membuat awet muda, dan telur merah sebagai lambang dari kehidupan.


BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan


Istilah  sekaten  berasal  dari  kata  syahadatain  yang  berarti  dua  kalimat syahadat,  yaitu   Aku  bersaksi   bahwa   tiada  Tuhan  selain  Allah  dan    Nabi  Muhammmad  utusan  Allah.      Penyelenggaraan perayaan sekaten  yang menjadi,   mulai  diselenggarakan  pada  masa  kerajaan  Demak  dibawah pimpinan  Raden  Patah dengan bimbingan  Wali  Sanga.  Acara  sekaten  kemudian  diteruskan  oleh  sultan  Demak  selanjutnya  yaitu  Pati  Unus  lalu  Sultan  Trenggono.
Grebeg Maulud adalah upacara tradisional yang telah berlangsung turun temurun dan mendapatkan perhatian luas dari warga Yogyakarta dan sekitarnya. Acara Grebeg Maulud yang sudah digelar beberapa bulan kemarin sedikit berbeda, upacara tradisional Gregeg Maulud tahun ini Gunungan yang dikirap ditambah satu Gunungan yang diberi nama Gunungan Bromo karena bertepatan dengan tahun Dal (tahun dalam kalender jawa).

B. Saran

Karena keterbatasan ilmu yang kami miliki, Kami menerima saran dan keritik yang sifatnya konstruktif dan sifatnya membangun dari semua pihak yang membaca Makalah ini, agar Makalah ini akan lebih sempurna di kemudian hari.

Demikian uraian di atas tentang Contoh Makalah Upacara Adat Sekaten. Semoga informasi ini dapat bermanfaat serta menambah wawasan bagi anda semua, terima kasih.                                 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel