Makalah Kisah Umar Bin Khatab Dan Hamzah Masuk Islam, Dan Hijrah Ke Habsyah, Thaif

MAKALAH KISAH UMAR BIN KHATAB DAN HAMZAH MASUK ISLAM, DAN HIJRAH KE HABSYAH, THAIF



KATA  PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun membuat makalah ini untuk memenuhi KBM mata pelajaran SKI.

Dan terima kasih kepada bapak/ ibu guru dan teman -  teman telah membantu dalam membuat makalah ini dengan judul Makalah Kisah Umar Bin Khatab Dan Hamzah Masuk Islam, Dan Hijrah Ke Habsyah, Thaif.

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam membuat makalah ini karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Dan sangat kami harapkan kritik dan saran agar bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah ini.


                                                                                                                 Banjar, Oktober 2018


                                                                                                              Penyusun








DAFTAR ISI


Kata Pengantar ....................................................................................... i
Daftar isi ................................................................................................. ii
Bab I Pendahuluan ................................................................................. 1
        A. Latar belakang ........................................................................ 1
B. Rumusan masalah ................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................. 1
Bab II Pembahasan ............................................................................ 2
        A.   Kisah Hamzah dan Umar bin Khathab Masuk Islam .........       2
        B.   Peristiwa Hijrah ke Habsyah ......................................... 3
                  a. Hijrah ke Habsyah yang Pertama ................................. 3
                  b. Hijrah ke Habsyah yang kedua ......................................... 4
        C.   Hijrah Ke Thaif ................................................................. 5
Bab III Penutup ................................................................................. 8
        A. Kesimpulan ........................................................................ 8
        B. Saran ......................................................................... 8
Daftar Pustaka ......................................................................... 9







BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dalam dakwahnya Rosululloh ketika menyebarkan agama islam tidak sedikit mendapatkan perlawan dari kaum Quraisy, baik itu cemoohan atau bahkan berusaha untuk menganiaya. Untuk menghindarkan aniaya dan kekejaman kaum Quraisy, Nabi memilih rumah seorang pengikutnya yang bernama Arqam, sebagai tempat berkumpul dan beribadah karena sampai saat itu, orang-orang Islam belum mau melakukan ibadah secara terang-terangan.

Setelah Islam mencapai usia genap enam tahun, keadaan menjadi berubah. Pada tahun itu, dua orang pemuka bangsa Arab yang disegani orang, memeluk Islam. Mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi sendiri, dan Umar bin Khaththab.  Hamzah, saudara dari ayah Nabi, adalah seorang yang mulia dan berani

B. Rumusan Masalah 
Adapun rumusan dalam penulisan  makalah ini adalah :
1. Menjelaskan mengenai Hamzah dan Umar bin Khathab Masuk Islam
2. Menjelaskan mengenai Hamzah dan Umar bin Khathab Hijrah ke Habsyah
3. Menjelaskan mengenai Hamzah dan Umar bin Khathab Hijrah ke Thaif

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, meliputi beberapa hal diantaranya :
1. Dapat Menjelaskan Hamzah dan Umar bin Khathab Masuk Islam
2. Dapat Menjelaskan mengenai Hamzah dan Umar bin Khathab Hijrah ke Habsyah
3. Dapat Menjelaskan mengenai Hamzah dan Umar bin Khathab Hijrah ke Thaif







BAB II
PEMBAHASAN 


A. Kisah Hamzah dan Umar bin Khathab Masuk Islam
            Disaat Nabi Muhammad Saw. melaksanakan dakwah Islam kepada kaum kafir Quraisy yang menentang dengan keras dakwah beliau, ada dua tokoh terkemuka  Quraisy yang masuk Islam, mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar  bin Khathab. Dengan masuknya kedua tokoh terkemuka Quraisy ini merupakan  menambah kekuatan bagi kaum muslimin dan harapan akan adanya kemenangan. Umar bin Khathab telah dijuluki oleh Rasulullah dengan al-Faruq, karena  Allah telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil.

            Beberapa hari setelah keIslamannya Umar bin Khathab berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran? Beliau menjawab: “Memang demikian". Umar berkata: “Kalau begitu untuk apa kita bersembunyi dan menutup diri?” Setelah  itu, Rasulullah bersama kaum muslimin yang ada di Darul Arqam membentuk dua barisan. Satu barisan dipimpin Hamzah bin Abdul Muthalib dan barisan lainnya dipimpinn Umar bin Khattab bergerak menuju jalan-jalan di kota Mekkah  dalam gerakan yang menggambarkan kekuatan dalam perjalanan dakwah, dan  sekaligus memulai dakwah secara terang-terangan.

           Kaum kafir Quraisy terus berusaha memerangi dakwah ini dengan berbagai macam cara; menyiksa, menganiaya, mengintimidasi, dan membujuk. Namun, semua itu tidak menghasilkan apapun, selain justru menambah keteguhan mereka  terhadap agama Islam dan menambah jumlah orang-orang yang beriman. Inilah  pemikiran kaum kafir Quraisy untuk memunculkan cara baru, yaitu menulis sebuah lembaran (perjanjian) yang ditanda tangani oleh mereka semua, dan digantung di Ka’bah untuk mengembargo kaum muslimin dan Bani Hasyim. Embargo  ini berlaku di semua aspek; tidak boleh terjadi transaksi jual beli, pernikahan, tolong-menolong, dan bergaul dengan mereka.

           Kaum muslimin terpaksa keluar dari  kota Mekkah menuju ke salah satu celah gunung di Mekkah yang bernama celah gunung Abu Thalib. Di sana kaum muslimin sangat menderita, mereka merasakan kelaparan dan berbagai macam kesulitan. Orang-orang yang mampu di antara mereka menyumbang sebagian harta mereka, bahkan Khadijah menyumbang semua hartanya. Wabah penyakit melanda mereka yang menyebabkan kematian  sebagian mereka. Namun demikian, mereka dapat bertahan dan bersabar, tidak ada seorangpun dari mereka yang mundur. Embargo ini terus berlangsung selama tiga tahun.

           Kemudian sekelompok pembesar Quraisy yang memiliki hubungan kekerabatan dengan beberapa orang Bani Hasyim berusaha mencabut isi lembaran di  atas, dan mengumumkan pada khalayak ramai. Ketika mengeluarkan lembaran, mereka menemukannya telah termakan oleh rayap, tidak ada yang tersisa kecuali satu sisi kecil yang diatasnya tertulis “lafadz bismika allahumma” (dengan menyebut nama-Mu, ya Allah). Akhirnya, krisis pun sirna dan kaum muslimin  beserta Bani Hasyim kembali ke kota Mekkah. Namun kaum kafir Quraisy tetap  pada sikap mereka yang kejam dan bengis dalam memerangi kaum muslimin.

B. Peristiwa Hijrah ke Habsyah 
a. Peristiwa Hijrah ke Habsyah yang Pertama
Para sahabat Rasulullah meninggalkan Makkah pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian. Mereka berangkat dengan cara sembunyi-sembunyi. Ketika tiba di pantai, ada dua kapal dagang yang mengangkut mereka ke negeri Habsyah. Mengetahui hal itu orang kafir Quraisy berusaha mengejar mereka  hingga tepi laut. Akan tetapi mereka terlambat sehingga tidak mendapati apa-apa.

Maka tatkala kaum muslimin tiba di Habsyah, raja Najasyi menyambut baik dan hangat kedatangan mereka. Menempatkan mereka ditempat yang pantas, sehingga kaum muslimin merasakan ketenangan dan keamanan. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan tenang tanpa ada yang menyakiti.

Tiga bulan setelah dimulainya hijrah, kaum muslimin hidup dengan berbagai perubahan yang terjadi di makkah. Lahirlah di tengah-tengah kaum muslimin suatu keinginan kuat untuk menyebarkan dakwah di Makkah, dimana pada saat itu Hamzah bin Abdul Mutholib (paman Rasulullah) dan Umar bin Khattab menyataka keislamannya. Pada saat itu Hamzah merupakan kaum muda Quraisy yang sangat disegani sedangkan Umar orang yang sangat tegas dan ditakuti. Karenanya, saat Hamzah dan Umar masuk islam kaum Quraisy segera menyadari bahwa Rasulullah semakin mendapat dukungan dan perlindungan. Maka mereka berangsur menghentikan beberapa kekerasan yang sebelumnya biasa mereka lakukan. Mereka mulai dapat sholat langsung di depan Ka’bah

Tentu semua berita baik itu sampai kepada mereka yang sedang di tanah rantau dan mereka sangat gembira akan perubahan kampung halaman. Karenanya tidak heran jika kerinduan akan kampung halaman kian terasa, jiwa mereka merindukan tanah Makkah tempat sanak saudara mereka berkumpul. Maka mereka pun kembali ke Makkah dalam suasana dan kondisi yang baru dan lebih memiliki keberanian. Mereka percaya dengan adanya kekuatan baru dari Hamzah dan Umar akan membawa kemuliaan dan kekuatan kaum muslimin. Jiwa mereka tertarik kuat untuk selalu berada di bawah naungan Ka’bah.

Akan tetapi kaum Quraisy berusaha memberikan perlawanan baru atas keislaman Hamzah dan Umar. Dari satu sisi mereka mengerahkan jurus makar-makar terbaru dan dari sisi lain mereka kembali melakukan kekerasan. Mereka menambah amunisi untuk melawan Rasulullah dan para sahabatnya. Amunisi baru yang dimaksud adalah pemberlakuan boikot ekonomi atas kaum muslimin, yang berisi sebagai berikut:

1. Muhammad dan kaum keluarganya serta kaum pengikutnya tidak diperkenankan menikah                    dengan orang –orang Quraisy yang lain, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.
2. Kaum Quraisy tidak diperkenankan berjual beli barang apa saja dengan Muhammad dan                      keluarganya serta pengikutnya.
3. Kaum Quraisy tidak diperkenankan memjalin persahabatan atau pergaulan dengan Muhammad            dan keluarganya serta pengikutnya.
4. Kaum Quraisy tidak diperkenankan mengasihi dan menyayangi Muhmmad dan kaum                          keluarganya serta pengikutnya.
5. Undang-undang yang telah ditetapkan ini, sesudah ditulis dan digantungkan di dalam Ka’bah,               ditetapkan sebagai undang-undang suci kaum Quraisy dan keluarga Muhammad serta                           pengikutnya.
6. Undang-undang ini berlaku selama keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib belum                            menyerahkan Muhammad kepada kaum Quraisy untuk dibunuh. Bilamana Muhammad sudah              diserahkan kepada mereka, undang-undang ini tidak berlaku lagi.

b. Peristiwa Hijrah ke Habsyah yang Kedua
Dengan diberlakukannya undang-undang pemboikotan tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya hijrah ke negeri Habsyah untuk yang kedua kalinya. Adapun mereka yang pergi berhijrah berjumlah 101 orang yang terdiri atas 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Yang menjadi kepala rombongan sekaligus sebagai penanggungjawab atas segala sesuatu yang berkenaan dengan kaum muhajirin ini ialah sahabat Ja’far bin Abi Tholib.

Keadaan kaum imigran islam yang berada dalam suaka raja Najasyi benar-benar aman. Mengetahui hal itu, orang-orang kafir Quraisy menyuruh Abdullah bin Rabi’ah dan Amr bin Ash untuk mengejar mereka. Keduanya menemui raja Najasyi dengan membawa banyak hadiah dan meminta kepada raja Najasyi supaya bersedia mengusir kaum imigran muslim. Permintaan delegasi kaum Quraisy tidak langsung dikabulkan oleh raja Najasyi. Raja yang beragama nasrani ini lantas memanggil Ja'far dan rombongannya ke istana.

Di tempat inilah dan di hadapan raja beserta para penasehat agamanya, Ja'far menjelaskan maksud kedatangannya ke Habasyah. Putra Abu Thalib ini dengan tegas mengatakan bahwa dia dan rombongannya, bukanlah budak yang lari dari tuannya atau pembunuh yang lari dari tebusan darah. Mereka lari dari Mekah hanya untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan dan tekanan yang dilakukan para pemuka Quraisy terhadap mereka. Mereka dianggap layak mendapat perlakuan buruk karena telah menyembah Tuhan yang Esa dan menolak sujud kepada berhala.

Penjelasan Ja'far bin Abi Thalib berhasil mematahkan makar utusan Quraisy. Raja Najasyi memerintahkan untuk mengembalikan semua hadiah yang dikirim Quraisy kepadanya. Utusan Mekah-pun meninggalkan negeri Habsyah. Untuk kaum muhajirin, raja Najasyi memberikan izin tinggal di negerinya dengan aman dan damai sampai kapanpun juga.

C. Hijrah Ke Thaif
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Thaif terjadi pada tahun ke-10 Kenabian ketika para ketua dan pembesar musyrikin Quraisy menyadari bahwa Nabi tidak mempunyai tulang punggung yang dapat melindungi beliau apabila disakiti dan dianiaya atau diperlakukan dengan kejam karena orang yang beliau sayangi dan kasihi telah meninggal dunia, yaitu Abu Thalib dan Khadijah sehingga disebut tahun kesedihan (Ammul Huzni), maka mereka semakin menghalangi dan memusuhi beliau. Setiap hari, siang dan malam, beliau tidak henti-henti menerima celaan, cercaan, penghinaan, dan perbuatan yang menyakitkan dari para musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, teringat oleh beliau bahwa di kota Thaif ada seorang yang masih termasuk keluarga dekat beliau dari keturunan Tsaqif. Di kota Thaif, merekalah yang memegang kekuasaan. Ketika itu tinggal tiga orang, yaitu: Kinanah yang bergelar Abdu Jaffi, Mas’ud yang bergelar Abdul Kulal, dan Habib. Ketiganya adalah anak dari Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi dan masing-masing memegang kekuasaan di kota Thaif.

Nabi Muhammad memilih Thaif karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai. Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka. Bergabung pula bersama mereka Bani Daus.[4] Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Disana juga mereka mengisi waktu-waktu rehat padamusim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Pergerakan dakwah yang penuh strategi yang dijalankan oleh Rasulullah ini sebagai bentuk upaya beliau, antusias beliau, untuk mendirikan negara Islam tangguh yang sanggup bertahan dalam arena pertarungan. Karena, sesungguhnya suatu negara yang kuat merupakan fasilitas dakwah yang teramat penting dan utama. Maka tatkala beliau tiba di Thaif, beliau langsung menuju pusat kekuasaan, tempat diputuskannya suatu ketetapan politik di Thaif.

Nabi SAW berharap apabila beliau datang ke Thaif dan bertemu dengan mereka, mereka bisa mengikuti seruannya dan ikut serta menggerakkan dakwah beliau di kota itu. Dengan demikian, penduduk kota itu akan segera mengikuti seruan beliau dan selanjutnya mereka dapat memberi bantuan untuk kepentingan penyiaran Islam di kota Mekah. Dengan tidak berpikir panjang, Nabi saw berangkat ke Thoif  secara diam-diam bersama Zaid bin Haritsah (bekas budak Khadijah yang telah diangkat sebagai anak beliau)  dengan berjalan kaki.

Setiba Nabi saw. di Thaif bersama Zaid, beliau mencari tempat kediaman orang yang ditujunya, yakni para pemimpin Bani Tsaqif yang sedang berkuasa disana. Beliau lalu menyatakan maksud kedatangannya kepada mereka, yaitu selain hendak menyambug tali kasih sayang dengan mereka dan mengekalkan persaudaraan dengan mereka sepanjang adat istiadat bangsa Arab, beliau menganjurkan kepada mereka supaya mengikut apa yang diserukannya.

Setelah mereka mendengar seruan beliau, seketika itu penduduk Thaif yang bodoh marah, mencaci maki, dan mendustakan beliau dengan perkataan-perkataan yang sangat kasar. Mereka mengusir beliau dari rumah mereka dan pergi dari kota Thaif. Jika tidak, beliau diancam akan dibinasakan saat itu juga.

Setelah mendengar celaan, caci maki, dan ancaman mereka, beliau mohon diri seraya berkata, “Jikalau kamu tidak sudi menerima kedatanganku ke sini, tidak mengapa. Tetapi janganlah kedatanganku kemari disiarkan kepada penduduk kota ini.”

Beliau tidak ingin hal tersebut terdengar oleh kaumnya sehingga akan memperunyam keadaan. Karena dalam misinya ini, beliau berusaha melakukan serahasia mungkin, dan tidak ingin tercium pergerakanya oleh kaum Quraisy,  karena beliau sangat memperhatikan hal-hal berikut ini:

a. Saat berangkat ke Thaif, beliau tidak menggunakan kendaraan, namun dilakukan dengan berjalan kaki, agar orang Quraisy tidak mengira bahwa beliau akan keluar dari Makkah. Sebab jika sampai beliau menggunakan kendaraan, mereka akan membaca bahwa beliau sedang menuju suatu tempat tertentu, dan boleh jadi mereka akan melakukan penghadangan dan pencekalan.
b. Rasulullah mengajak Zaid, anak angkat beliau dalam keberangkatan tersebut. Jika dicermati, dengan memiih Zaid sebagai teman perjalanan, terdapat beberapa aspek keamanan yaitu, jika orang melihat bahwa ada orang lain yang menemani keberadaannya, tentunya mereka akan membaca bahwa Rasulullah tidak bergerak sendirian. Disamping itu, beliau mengenal Zaid sangat dekat. Beliau percaya Zaid dapat menjaga rahasia, karena dia adalah orang yang ikhlas, jujur, dan amanah. Dan itulah yang ditampakkan Zaid tatkala beliau diserang dengan lemparan batu. Dia dengan berani melindungi Rasulullah dengan mnjadikan dirinya sebagai perisai beliau dari lemparan tersebut walaupun kepalanya harus cedera.
c. Tatkala perlakuan para pemuka dan masyarakat Thaif sangat buruk kepada beliau. Beliau dengan sabar menanggunnya, tidaklah beliau marah atau mendendam, namun beliau hanya meminta agar mereka tidak menutupi semua kejadian ini. Inilah langkah kerahasiaan yang sangat optimal. Sebab jika sampai orang Quraisy mengetahui hal itu, tidak hanya mereka akan mencerca beliau, namun boleh jadi mereka akan semakin keras dalam melakukan penindasan dan tekanan, maka semakin terhalangilah semua gerakan beliau di dalam dan luar Makkah.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Disaat Nabi Muhammad Saw. melaksanakan dakwah Islam kepada kaum kafir Quraisy yang menentang dengan keras dakwah beliau, ada dua tokoh terkemuka  Quraisy yang masuk Islam, mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar  bin Khathab. Dengan masuknya kedua tokoh terkemuka Quraisy ini merupakan  menambah kekuatan bagi kaum muslimin dan harapan akan adanya kemenangan. Umar bin Khathab telah dijuluki oleh Rasulullah dengan al-Faruq, karena  Allah telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil.


B. Saran
Kita sebagai umat manusia khususnya yang beragama islam, tentunya kita harus beprilaku sesuai dengan syariat islam dan sunnah rosul. Namun untuk dapat bisa seperti itu tentunya kita tidak mudah, dimana terdapat rintangan yang cukup berat seperti halnya ejekan atau penganiayaan seperti halnya pada rosululloh kala itu. Namun mungkin berbeda jenisnya sesuai dengan kehidupan waktu sekarang.





DAFTAR PUSTAKA


https://www.alkhoirot.org/2017/05/masuk-islamnya-umar-hamzah-raja-habasyah.html
http://nourakhabibah.blogspot.com/2016/05/hijrah-rasulullah-ke-negeri-habsyah-dan.html

Demikian artikel diatas tentang Makalah Kisah Umar Bin Khatab Dan Hamzah Masuk Islam, Dan Hijrah Ke Habsyah, Thaif. Semoga uraian di atas dapat memberi manfaat untuk semua, terima kasih.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Makalah Kisah Umar Bin Khatab Dan Hamzah Masuk Islam, Dan Hijrah Ke Habsyah, Thaif"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel