Makalah : Upacara Adat Perkawinan Mappabotting


Upacara Adat Perkawinan Mappabotting


KATA  PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun membuat makalah ini untuk memenuhi KBM dalam semester genap dengan judul " Upacara adat Perkawinan Mappabotting " .

Dan terima kasih kepada bapak/ ibu guru dan teman -  teman telah membantu dalam membuat makalah ini. Tanpa ada kalian kami tidak bisa menyelesaikan pembuatan makalah ini.

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam membuat makalah ini karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Dan sangat kami harapkan kritik dan saran agar bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah ini.


                                                                                        Banjar,  Januari 2018


                                                                                            Penyusun





DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ......................................................................... i
Kata Pengantar ........................................................................................ ii
Daftar isi ................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan ................................................................................. 1
        A. Latar belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................. 1
Bab II Pembahasan ............................................................................. 2
       A. Asal Usul Mappabotting ......................................................... 2
       B. Tujuan ................................................................................ 3
       C. Prosesi Upacara ................................................................. 3
               1. Perlengkapan  Mappabotting ......................................... 3
               2. Waktu dan Tempat Perayaan ......................................... 3
               3. Tahapan – tahapan  Upacara ......................................... 4
      D. Nilai – Nilai Yang Terkandung ......................................... 5
Bab III Penutup ................................................................................. 6
      A. Kesimpulan ......................................................................... 6




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman, sentuhan tekhnologi modern telah mempengaruhi dan menyentuh masyarakat Bugis Bone, namun kebiasaan-kebiasaan yang merupakan tradisi turun menurun bahkan yang telah menjadi Adat masih sukar untuk dihilangkan. Kebiasan-kebiasaan tersebut masih sering dilakukan meskipun dalam pelaksanaannya telah mengalami perubahan, namun nilai-nilai dan makna masih tetap terpelihara dalam setiap upacara tersebut.
Ada dua tahap dalam proses pelaksanaan upacara perkawinan masyarakat Bugis Bone yaitu, tahap sebelum dan sesudah akad perkawinan. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, masyarakat Bugis Bone khususnya menganggap bahwa upacara perkawinan merupakan sesuatu hal yang sangat sakral, artinya mengandung nilai-nilai yang suci.
Terdapat bagian-bagian tertentu pada rangkaian upacara tersebut yang  bersifat tradisional. Dalam sebuah pantun Bugis (elong) dikatakan : Iyyana kuala sappo unganna panasae na belo kalukue. Yang artinya Kuambil sebagai pagar diri dari rumah tangga ialah kejujuran dan kesucian. Dalam kalimat tersebut terkadung arti yang sangat penting dalam menjalankan suatu perkawinan.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan dalam penulisan  makalah ini adalah :
1. Menjelaskan Tradisi Mappabotting
2. Menjelaskan tahapan Mappabotting

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, meliputi beberapa hal diantaranya :
1.    Memahami salah satu tugas mata pelajaran SKI
2.    Mengetahui Tradisi Tradisi Mappabotting
3.    Semoga bermanfaat bagi para pembaca sebagai tambahan pengetahuan




BAB II
PEMBAHASAN

A. Asal  - Usul
Mappaboting adalah bahasa bugis bearti  melaksanakan upacara perkawinan. Sementara itu, istilah perkawinan dalam bahasa bugis disebut siala yang berati saling mengambil satu sama lain. Dengan demikian, perkawinan adalah ikatan timbal balik antara dua insan yang berlainan jenis kelamin untuk menjalin sebuah kemitraan ( Christian Perlas, 2006: 178). Menurut Ibrahim A ( dalam Badruzzaman, 2007 ), istilah perkawinan dapat juga disebut siabbing dari kata bin yang berartui benih padi. Dalam tata bahasa bugis, kata bin jika mendapat awalan ma menjadi mabbain berarti menanam benih. Kata bin atau mabbin ini memiliki kedekatan bunyi dan makna dengan kain bain ( istri ) atau mabbain ( beristri ). Maka dalam konteks ini, kata siabbin mengandung makna menanam benih dalam kehidupan rumah tangga.
Menurut pandangan orang buhis, perkawinan bukan skeda menyatukan dua mempelai dalam hubungan suami istri, tetapi perkawinan merupakan suatu  upacara yang bertujuan untuk menyatukan dua keluarga besar yang telah terjalin sebelumnya menjadi semakin erat atau dalam istilah orang bugis disebut mappasidepp  mabla atau mendekatkan yang sudah jauh ( Perlas, 2006 : 178 ). Oleh karena itu, perkawinan di kalangan masyarakt bugis umumnya berlangsung antar keluarga dekat atau antar kelompok patronasi ( endogami ), terutama di kalangan masyarakat biasa, karena mereka sudah saling memahami sebelumnya ( Hilman Hadikusuma, 2003 :68 ).
Meskipun perkawinan endogami tersebut masih bertahan hingga sekarang, namun tidak dianut secara ketat. Dewasa ini, pemilihan jodoh sudah banyak dilakukan di luar lingkungan kerabat elautherogami ( Hadikusuma, 2003 : 69 ). Kendati demikian, peran orang tua tetap diperlukan untuk memberikan petunjuk anak – anaknya mendapatkan pasangan hidup dari keturuan orang baik – baik, memiliki adab sopan – santun, kecantikan, keterampilan rumah tangga, serta memiliki pengetahuan agama.
Dengan demikian, keterlibatan orang tua dan kerabat dalam pelaksanaan pesta perkawinan tidak  dapat diabaikan. Mereka tetap memegang peranan sebagai penentu dan pelaksana dalam perkawinan anak – anaknya. H. TH. Chabot ( dalam Badruzzaman, 2007 ) mengatakan, pilihan pasangan hidup bukanlah urusan pribadi, namun merupakan urusan keluarga dan kerabat. Untuk itulah, perkawinan perlu dilakukan secara sungguh – sungguh menurut agam dan adat yang berlaku di dalam masyarakat.
Alasan lain orang budi harus mengadakan pesta perkawianan adalah hal  tersebut sangat berkaitan dengan status sosial mereka dalam masyarakat. Semakin meriah sebuah pesta, semakin mempertinggi status sosial seseoarng. Milar ( dalam Perlas, 2006 : 184 ) pernah mengatakan bahwa upacara perkawinan merupakan media bagi orang bugis untuk menunjukan posisinya dalam masyarakat dengan menjalankan ritual – ritual, perhiasan, dan berbagai pernak – pernik tertentu sesuai dengan mereka dalam masyarakat. Oleh karena itu, tak jarang sebuah keluarga menjadikan pesta perkawinan sebagai ajang untuk meningkatkan status sosial mereka.

B. Tujuan
Alasan lain orang budi harus mengadakan pesta perkawianan adalah hal  tersebut sangat berkaitan dengan status sosial mereka dalam masyarakat. Semakin meriah sebuah pesta, semakin mempertinggi status sosial seseoarng. Milar ( dalam Perlas, 2006 : 184 ) pernah mengatakan bahwa upacara perkawinan merupakan media bagi orang bugis untuk menunjukan posisinya dalam masyarakat dengan menjalankan ritual – ritual, perhiasan, dan berbagai pernak – pernik tertentu sesuai dengan mereka dalam masyarakat. Oleh karena itu, tak jarang sebuah keluarga menjadikan pesta perkawinan sebagai ajang untuk meningkatkan status sosial mereka.

C. Prosesi Upacara
1. Bahan – Bahan Perlengkapan
Bahan – bahan yang digunakan dalam upacara perkawinan orang bugis di antaranya adalah :

  • Pompa, yaitu mahar atau mas kawin dalam bentuk uang real sebagai syarat sah peminanang menurut islam.
  • Dui mnr atau dui balanca, yaitu sejumlah uang belanja dari mempelai pria sebagai syarat sah peminangan menurut adat. Uang tersebut digunakan membiayai pesta pernikahan mempelai wanita.
  • Cicing passiok, yaitu cincin emas dari mempelai pria untuk mengikat mempelai wanita
  • Sarung sutera sebagai hadiah untuk kedua belah pihak keluarga mempelai
  • Seperangkat peralatan dalam acara mappacci seperti daun pacar, bantal, pucuk dan daun pisang, lilin, bekkeng ( tempat daun pacar dari logam ) , wenno ( padi yang disangrai), dan daun nangka.
  • Berbagai macam makanan dan kue – kue tradisional bugis seperti beppa puteh, nennu – nennu, palopo, bagongko, paloleng, sanggarak, lapisi, cangkueng, badda – baddang, dan lain – lain sebagainya.
  • Bosara, yaitu tempat menyimpan kue – kue tradisional bugis, dan sebagainya.


2. Tempat Pelaksanaan
Upacara atau pesta pekawinan menurut adat bugis umumnya dilaksanakan di rumah masing – masing kedua mempelai. Untuk acara akad nikah di rumah mempelai wanita pada tahap mappebotting ( mengantar pengantin ). Namun bagi keluarga yang ingin menghemat biaya, pesta perkawinan hanya dilakukan pada satu tempat, yaitu biasanya di tempat mempelai wanita. Pelaksanaan pesta perkawinan semacam ini disebut dengan massddidapureng.


3. Tahap – Tahap Kegiatan Perkawinan
Mappabotting adalah upacara adat pernikahan orang Bugis di Selawesi Selatan. Secara garis besar, pelaksanaan upacara adat ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu upacara pra pernikahan, pesta pernikahan, dan pasca pernikahan. Dalam upacara perkawinan adat masyarakat  Bugis Bone yang disebut ”Appabottingeng ri Tana Ugi” terdiri atas beberapa tahap kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan rangkaian yang berurutan yang tidak boleh saling tukar menukar, kegiatan ini hanya dilakukan pada masyarakat Bugis Bone yang betul-betul masih memelihara adat istiadat.Pada masyarakat Bugis Bone sekarang ini masih kental dengan kegiatan tersebut, karena hal itu merupakan hal yang sewajarnya dilaksanakan karena mengandung nilai-nilai yang sarat akan makna, diantaranya agar kedua mempelai dapat membina hubungan yang harmonis dan abadi, dan hubungan antar dua keluarga tidak retak.

Kegiatan – kegiatan tahap kegiatan nikah suku bugis:
Mattiro (menjadi tamu)
Merupakan suatu proses dalam penyelenggaraan perkawinan. Mattiro artinya melihat dan memantau dari jauh atau Mabbaja laleng (membuka jalan). Maksudnya calon mempelai laki-laki melihat calon mempelai perempuan dengan cara bertamu dirumah calon mempelai perempuan, apabila dianggap layak, maka akan dilakukan langkah selanjutnya.

Mapessek-pessek (mencari informasi)
Saat sekarang ini, tidak terlalu banyak melakukan mapessek-pessek karena mayoritas calon telah ditentukan oleh orang tua mempelai laki-laki yang sudah betul-betul dikenal. Ataupun calon mempelai perempuan telah dikenal akrab oleh calon mempelai laki-laki.

Mammanuk-manuk (mencari calon)
Biasanya orang yang datang mammanuk-manuk  adalah orang yang datang mapessek-pessek supaya lebih mudah menghubungkan pembicaraan yang pertama dan kedua. Berdasarkan pembicaraan antara pammanuk-manuk dengan orang tua si perempuan, maka orang tua tersebut berjanji akan memberi tahukan kepada keluarga dari pihak laki-laki untuk datang kembali sesuai dengan waktu yang ditentukan. Jika kemudian terjadi kesepakatan maka ditentukanlah waktu madduta Mallino (duta resmi)

Madduta mallino
Mallino artinya terang-terangan mengatakan suatu yang tersembunyi. Jadi Duta Mallino adalah utusan resmi keluarga laki-laki kerumah perempuan untuk menyampaikan amanat secara terang-terangan apa yang telah dirintis sebelumnya pada waktu mappesek-pesek dan mammanuk-manuk.
Pada acara ini pihak keluarga perempuan mengundang pihak keluarga terdekatnya serta orang-orang yang dianggap bisa mempertimbangkan hal lamaran pada waktu pelamaran. Setelah rombongan To Madduta (utusan) datang, kemudian dijemput dan dipersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Dimulailah pembicaraan antara To Madduta dengan To Riaddutai, kemudian pihak perempuan pertama  mengangkat bicara,lalu pihak pria menguitarakan maksud kedatangannya.
Apa bila pihak perempuan menerima maka akan mengatakan ”Komakkoitu adatta, srokni tangmgaka, nakkutananga tokki” yang artinya bila demiokian tekad tuan, kembalilah tuan, pelajarilah saya dan saya pelajari tuan, atau dengan kata lain pihak perempuan menerima, maka dilanjutkan dengan pembicaraan selanjutnya yaitu Mappasiarekkeng.

Mappasiarekkeng
Mappasiarekkeng artinya mengikat dengan kuat. Biasa jua disebut dengan Mappettuada maksudnya kedua belah pihak bersama-sama mengikat janji yang kuat atas kesepakatan pembicaraan yang dirintis sebelumnya.Dalam acara ini akan dirundingkan dan diputuskan segala sesuatu yang bertalian dengan upacara perkawinan, antara lain :

  • Tanra esso (penentuan hari)
  • Balanca (Uang belanja)/ doi menre (uang naik)
  • Sompa  (emas kawin) dan lain-lain

Setelah acara peneguhan Pappettuada selesai, maka para hadirin disuguhi hidangan yang terdiri dari kue-kue adat Bugis yang pad umumnya manis-manis agar hidup calon pengantin selalu manis (senang) dikemudian hari.

D. Nilai – Nilai yang terkandung
Sakralitas. Nilai ini terlihat jelas dari pelaksanaan berbagai macam ritual – ritual khusus seperti mandi tolak bala, pembacaan berzanzi, axara mappacci, dan lain sebagainya. Ritual – ritua tersebut dianggap sacral oleh orang bugis dan bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT.
Penghargaan terhadap kaum perempuan. Nilai ini terlihat pada keberadaan proses peminangan yang harus dilakukan oleh mempelai pria. Hal ini menun jukan suatu upaya untu k menghargai kamu perempuan dengan meminta restu dari kedua orang tuanya. Nilai penghargaan terhadap perempuan juga dapat dilihat dengan adanya pemberian mahar berupa mas kawin dan dui balanca yang cukup tinggi dari pihak laki – laki kepada pihak perempuan. Keberadaan mahar sebagai hadiah ini merupakan isyarat atau tanda kemuliaan perempuan.
Kekerabatan. Bagi orang bugis, perkawian bukan sekedar menyatukan dua insan yang berlainan jenis menjadi hubungan  suami – istri, tetapi lebih kepada menyatukan dua keluarga besar. Dengan demikian, perkawinan merupakan salah satu sarana untuk menjalin dan mengeratkan hubungan kekerabatan.
Gotong royong. Nilai ini terlihat pada pelaksanaan pesta perkawinan yang melibatkan kaum kerabat, handai taulan, dan para tetangga. Mereka tidak saja memberikan bantuan berupa pikiran dan tenaga, tetapi juga dana untuk membiayai pesta tersebut.
Status sosia. Pesta perkawinan bagi orang bugis bukan sekedar upacara penjamuan biasa, tetapi lebih kepada peningkatan status sosial. Semakin meriah sebuah pesta, semakin maka semakin tinggia sosial seseorang. Oleh karena itu, tak jarang sebuah keluarga menjadikan pesta perkawinan sebagai ajang untuk meningkatkan status sosial mereka.




BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Mappaboting merupakan upacara adat perkawinan orang bugis di sulawesi selatan. Perkawinan menurut orang bugis bukanlah sekedar untuk menyatukan kedua mempelai pria dan wanita, akan tetapo lebih daripada itu adalah menyatukan kedua keluarga besar sehingga terjalin hubungan kekerabatan yang semakin erat. Untuk itulah, budaya perkawinan orang bugis perlu tetap dipertahankan karena dapat mempererat hubungan sialturahmi antar kerabat.


Demikian uraian di atas tentang Makalah Upacara adat Perkawinan Mappabotting. Semoga informasi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagin anda semua, terima kasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel